Kesatuan melalui semangat kerendahan hati

AAEAAQAAAAAAAAdhAAAAJDQ3YTBlMDZlLTE3NTAtNDBhMi05ODNmLTQyOGQ2M2E4MmI4MA

Pada hari selasa, 12 Juli 2016 Mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush dan Presiden Barack Obama menyampaikan pidato peringatan pelayanan untuk lima orang polisi yang terbunuh pada insiden penembakan di Dallas. Saya menemukan bahwa kedua pidato tersebut saling melengkapi satu sama lain dalam dalam hal yang mendidik kita perihal memperkuat kesatuan didalam kelompok. Saya percaya para pemimpin hari ini perlu belajar satu atau dua hal dari pidato mereka untuk mentransformasi anggota tim mereka menjadi tim yang lebih efektif dan solid.

Mantan Presiden George W. Bush dengan bijak mengingatkan kita, “Terlalu sering kita menilai kelompok-kelompok lain melalui contoh-contoh terburuk mereka, sementara menilai kelompok sendiri melalui niat terbaik kita.” Manusia cenderung memiliki standar ganda ini ketika menilai diri sendiri dan orang lain.

Sering kali kita gagal untuk melihat lebih dalam dari tindakan seseorang. Sayangnya, ketika kita melihat orang lain melakukan hal yang berbeda, kita terlalu cepat menarik kesimpulan kalau hal-hal tersebut tidak dilakukan dengan cara yang benar. Lebih buruk lagi, kita sering berasumsi bahwa kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan secara sengaja, untuk menguntungkan satu orang atau lebih daripada kelompok secara menyeluruh.

Di lain pihak, kita menuntut orang lain untuk menilai diri kita berdasarkan niat-niat kita yang baik. Seringkali kita gagal untuk mempertimbangkan bahwa cara-cara kita melakukan sesuatu dapat diterima dengan kurang baik oleh orang lain, jika tidak dilakukan sesuai dengan ekspektasi dari mayoritas anggota kelompok. Untuk memperburuk keadaan, ada saat-saat dimana kita benar-benar sadar akan konsekuensinya, akan tetapi, hanya dengan bergantung terhadap pembenaran dari niat baik saja, kita memilih untuk mengacuhkah hal-hal yang dapat menjadi masalah. Kita mengambil jalan pintas untuk mewujudkan niat-niat baik kita.

Tentu sata, standar ganda yang saling bertentangan ini akan sangat mudah memicu konfli diantara anggota kelompok.

Bagaimana cara kita memperbaiki ini? Saya percaya bahwa semangat kerendahan hati adalah jawabannya.

Semangat kerendahan hati membuat kita, dengan rela, memutar-balikkan cara kita bereaksi, seperti yang telah dijelaskan diatas. Ketika kita memutar-balik cara kita menilai orang lain dan diri sendiri, kita akan menciptakan iklim yang lebih harmonis dimana anggota kelompok dapat bekerja sebagai tim yang solid.

Kita tidak boleh semena-mena menilai bagaimana orang lain melakukan sessuatu secara berbeda dari cara-cara kita. Sebaliknya, ambillah langkah tambahan, pertimbangkan juga niat-niat baik mereka. Sama seperti Anda, pada umumnya orang-orang memiliki niat baik didalam hati mereka. Cobala untuk mengerti sudut pandang mereka. Ketika Anda melihat orang lain melakukan sesuatu secara berbeda, biasanya karena Anda melihat sesuatu yang mereka tidak lihat, atau kebalikannya. Daripada salah menilai mereka, komunikasikanlah perbedaan persepsi tersebut.

Tahanlah diri kita untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan kita, walaupun kita yakin akan niat baik yang kita miliki. Sebaliknya, berusahalah untuk memastikan bahwa orang lain dapat melihat niat terbaik kita, dengan mempertimbangkan ekspektasi yang mungkin muncul sejalan dengan kita merespon kepada suatu situasi. Cobalah untuk mengerti sudut pandang mereka. Ketika Anda melihat risiko-risiko dimana orang lain dapat salah paham, antisipasilah risiko-risiko tersebut dengan mengambil langkah-langkah yang memastikan bahwa Anda akan dapat persetujuan mereka.

Pada pidato Presiden Barack Obama di hari yang sama, beradarkan dari pengalamannya yang banyak, ia berkata, “Saya tidak naif… Saya telah melihat semangat persatuan, lahir dari tragedi, dapat menghilang secara perlahan, diganti dengan kembalinya rutinitas sehari-hari, dengan inersia kebiasaan-kebiasaan lama dan keadaan yang kembali seperti semula. Saya melihat bagaimana mudahnya kita kembali ke pengertian-pengertian kita yang lama, karena mereka nyaman, kita sudah terbiasa dengan mereka. Saya telah melihat bagaimana kata-kata yang tidak memadai dapat menghambat perubahan yang kekal.”

Presiden Obama menunjukkan kalau Pidato Dr. King, penandatanganan Undang-Undang Hak Sipil, atau penandatanganan Undang-Undang Hak Memilih telah berkontribusi secara dramatis untuk menjebatani perbedaan selama masa hidupnya. Sayangnya, dia juga mengngatkan sebaik apapun niat kita, tetap saja ada bias disitu. Dia berkata, “Kita pernah mendengarnya di rumah kita sendiri. Kalau kita bloeh jujur, mungkin kita pernah mendengar prasangka didalam kepala kita sendiri dan mereasakannya di dalam hati kita masing-masing… Walaupun kebanyakan dari kita melakukan yang terbaik untuk menghadangnya dan mengajarkan hal-hal yang lebih baik kepada anak-anak kita, tak satupun dari kita benar-benar tidak bersalah.”

Saya mendukung pandangan Presiden Obama dimana kita harus jujur terhadap diri kita sendiri. Kita membutuhkan umpan balik dan peringatan dari orang lain, karena tak satupun dari kita benar-benar tak bersalah. Kita harus megakui dan menerima perbedaan kita. Kita harus menemukan niat untuk berubah menjadi lebih baik, karena mengetahui hal benar yang harus dilakukan saja tidak cukup. Kita harus menjadi lebih bijaksana dan mempraktekkan pengetahuan ini.

Kita perlu semangat kerendahan hati untuk jujur terhadap diri kita sendiri, untuk menerima perbedaan kita, untuk melihat niat-niat baik dari orang lain, dan untuk menjaga diri kita dari melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain. Ajakan untuk bertindak ini lebih penting bagi mereka yang memiliki peran sebagai pemimpin. Para pemimpin harus menyatukan seluruh anggotanya. Oleh karena itu, para pemimpin juga harus menginspirasi dan menjadi teladan untuk semangat kerendahan hati.

Mari kita belajar untuk menjadi lebih rendah hati. Mari kita berubah menjadi lebih baik! Bolehkah kita?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *