Norma vs. nilai-nilai

sopan

Norma dan nilai, seberapa sering kita mencampurkan kedua hal ini? Mari kita temukan, di bawah ini adalah komentar untuk masing-masing konteks. “Menunggu dalam antrean untuk secangkir kopi di kafe”, dan “menghormati orang lain.” Salah satu pernyataan di atas adalah norma, tebak yang mana? Jika pilihan Anda adalah komentar kedua, Selamat! Anda hampir di tepat, yang benar adalah komentar pertama.

 

Norma dan nilai yang sering tercampur karena mereka mirip dan sering bertumpang tindih. Norma sering digambarkan sebagai sikap seseorang di dalam konteks dan budaya terikat, misalnya: menunggu dalam antrean, berpakaian hitam untuk pemakaman, atau mengatakan terima kasih. Memang hal-hal tersebut cukup normatif, dan orang diharapkan untuk mempraktekkan perilaku ini agar dapat diterima oleh masyarakat. di sisi lain, nilai adalah sesuatu yang baik, perilaku yang harus dilakukan untuk kesejahteraan diri sendiri dan semua orang. Mulai dari sesuatu yang pribadi, sebagai contoh: selalu memberikan lebih, berani karena Anda benar, selalu bersikap jujur; untuk cakupan yang lebih luas, seperti nilai-nilai kebangsaan: Pancasila untuk Indonesia, kebebasan untuk Amerika Serikat, dll.

 

Meskipun mungkin tampak baik, norma ini tidak selalu sesuatu yang positif, norma bisa saja mentoleransi hal-hal buruk. Selain semua hal-hal baik yang disebutkan di atas, keterlambatan, ketidakramahan, keacuhan, juga dapat dikategorikan sebagai norma. Norma tidak membatasi antara yang baik dan yang buruk, norma pasti ada dalam suatu budaya. Diskriminasi rasial misalnya, itu hal yang lumrah sampai beberapa dekade yang lalu, dan bahkan sekarang kita masih dapat merasakan sisa-sisa sentimen tersebut. Norma bersifat relatif, pria yang membawa handbag teman wanitanya bisa dilihat sebagai tanda perhatian bagi sebagian orang, atau dapat juga dilihat sebagai suatu yang merendahkan derajat pria tersebut.

 

Di sisi lain, nilai itu mutlak; selalu positif, dan berasal dari norma-norma yang baik. Di perusahaan, nilai sering digunakan untuk mengatur identitas dan arah perusahaan tersebut. Kami, éclat Consulting menggunakan eclectic (eklektik), considerate (perhatian), lively (bersemangat), applicable (bermanfaat), dan thorough (menyeluruh) disingkat menjadi éclat, sebagai nilai-nilai inti kami. Toyota Motor Corp menggunakan Toyota way yang terkenal sebagai nilai inti, yang terdiri dari: perbaikan terus-menerus dan menghormati orang lain. Secara individual, hal ini dapat dipraktekkan di mana saja oleh siapa pun, dan mungkin juga menjadi suatu norma; Tapi jika dilakukan bersama-sama, norma-norma individu ini akan menjadi nilai-nilai yang membentuk identitas dan menentukan arah perusahaan.

 

Pada dasarnya, nilai itu ada bersandingan dengan norma, bahkan nilai berasal darinya, nilai ada untuk mengatur norma yang sudah ada sebelumnya, sehingga sekelompok orang atau organisasi dapat beroperasi dengan cara yang sudah ditentukan. Norma ada dalam sebuah budaya, di antara orang-orang; hal ini tidaklah baik maupun buruk, itu semua tergantung dari pada konteks dan budaya di sekitar norma itu sendiri.

[ake]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *