Visi, misi, nilai

Cross_Eyed-2-kecil

Dimaknakan langka selanjutnya?

Kita semua pernah menjadi anak-anak, salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan anak-anak adalah berhayal. Mereka haus untuk hal-hal baru di dalam pikiran mereka yang sedang bertumbuh. Salah satu hal terbaik untuk dilakukan terhadap otak-otak kecil ini adalah untuk mengisinya dengan cerita-cerita berhikmat. Kilas balik kepada kenangan masa kecil kita sendiri, cerita manakah yang paling berkesan? Sebagian dari kita mungkin memilih Alice in Wonderland dan petualangannya yang fantastis. Kita mungkin masih ingat adegan dimana dia tersasar di sebuah hutan dan menemukan jalan bercabang. Enggan untuk membuat keputusan, dia akhirnya bertanya Cheshire Cat untuk bantuan.

“Bisakah Anda memberitahu saya jalan mana yang harus saya pilih?” Alice bertanya,

“Itu tergantung ke mana Anda ingin pergi” kucing Balasan acuh tak acuh,

“Aku tidak tahu ke mana harus pergi” Alice mengatakan dalam kebingungan,

“Kalau begitu tidak ada jalan yang salah atau benar” mengatakan kucing seperti itu menghilang.

Gambaran ini mengingatkan kita bahwa kita harus memiliki arah atau tujuan dalam hidup, jika tidak, mungkin saja kita berjalan di dalam lingkaran. Ini tidak hanya berlaku untuk kehidupan kita secara umum, tetapi juga dalam lingkungan perusahaan. Perusahaan juga perlu memiliki tujuan, perlu memiliki visi yang berorientasi pada masa depan. Perlu tahu apa yang diinginkan ke depannya, dengan demikian dapat memusatkan semua sumber daya untuk memenuhi visi tersebut.

Di perusahaan-perusahaan besar, kata “visi” sering kehilangan maknanya, karena segala sesuatunya serba besar, itu punya perusahaan itu memiliki segalanya, dan itu berhasil dibangun ekosistem yang “nyaman”; dengan demikian menghasilkan istilah “gajah (merujuk perusahaan raksasa) lebih sulit untuk bermanuver daripada perusahaan yang lebih kecil.”

Ketika kita melihat visi dari sudut pandang pemimpin atau pelopor perusahaan, jelas terlihat bahwa menentukan arah perusahaan menjadi sangat penting. Semua anggota perusahaan akan selalu diingatkan terhadap tujuan dari perusahaan atau organisasi, mereka semua akan bekerja sama untuk mewujudkan visi tersebut.

Raison d’etre (alasan keberadaan)

Setiap orang lahir karena suatu alasan, alasan yang sangat spesifik untuk individu yang sangat spesifik pula, karena orang adalah campuran dari bakat dan gairah; campuran yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Sama seperti manusia, sebuah perusahaan memiliki alasan untuk keberadaannya; dengan nilai tambahnya, melayani orang-orang dengan caranya sendiri, yang didorong oleh nilainya. Alasan yang membentuk perusahaan sering disebut sebagai “misi” perusahaan.

Nilai perusahaan sebagai “nadi”

Harimau meninggalkan belangnya ketika mati dan Gajah meninggalkan gadingnya, bagaimana dengan kita? Nilai, ini adalah warisan yang kita tinggalkan ketika kita menghadap sang pencipta. Nilai terikat erat dengan budaya, yang berisi nilai-nilai lain yang dianut dan dipraktekkan oleh kalayak umum. Indonesia contohnya, sebuah negara yang terkenal dengan kekacauan yang nyaris tanpa aturan, demikian juga warga negaranya; tetapi jika salah satu dari mereka pindah ke Singapore negara yang terkenal dengan ketertibannya; secara alami mereka akan hidup secara terorganisir di tempat umum. Sama seperti setiap warga negara Singapura, mereka tidak akan membuang sampah sembarangan, dan akan mematuhi setiap peraturan yang berlaku. Sebaliknya, aturan yang sama berlaku ketika warga Singapura pindah ke Indonesia, seiring berjalannya waktu, mereka akan berperilaku seperti orang Indonesia pada umumnya. Banyak orang mengatakan bahwa budaya itu tidak signifikan, tetapi tanpa mereka tau, budaya di dalam suatu lingkungan akan mempengaruhi perilaku orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Sama seperti manusia, kelangsungan perusahaan ditentukan oleh nilai-nilai yang dipraktekkan oleh perusahaan. Jika nilai tersebut baik dan benar-benar dipraktekkan oleh perusahaan ketika membuat keputusan, maka kelangsungan perusahaan tersebut akan terjamin. Toyota misalnya (didirikan tahun 1937) dan General Electric (didirikan pada tahun 1892) telah teruji oleh waktu, dan telah mewariskan nilai-nilainya sampai beberapa generasi. Mereka telah menjadi contoh yang baik sebagai perusahaan yang berhasil menerapkan nilai-nilai perusahaan sebagai fondasi perusahaan yang kokoh.

Itulah pentingnya nilai di dalam perusahaan, sesuatu yang menjamin keberlangsungan perusahaan tersebut. Nilai membentuk manusia orang sehari-hari. Dengan demikian, budaya perusahaan yang kokoh akan memastikan kinerja baik secara berkelanjutan dari para anggotanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *